Banjir..? “Inna lillah”…
Itulah kata pertama yang hadir di benak saya ketika melihat berita di televisi, Merapi banjir asap dan debu, Mentawai banjir tsunami. Keduanya sama-sama dilanda banjir. Betapa memilukan hati ketika mendengar berita tersebut, betapa tidak? karena terjadi pada waktu yang hampir bersamaan, bedanya yang satu di gunung dan satunya di laut, bagai pepatah “asam di gunung garam di laut” bertemu dalam satu wajan, yang satu di timur dan satu di barat, bertemu dalam satu wadah, negeri Indonesia. “Tanah air tumpah darah” bukan lagi slogan perjuangan kemerdekaan, tapi menjadi kenyataan tanah gempa, tanah longsor, banjir bandang, tsunami, tumpah darah perkelahian antar pelajar, mahasiswa, antar kelompok warga, pembunuhan sesama anak bangsa, kebakaran, dan pertikaian para elit politik baik tingkat daerah maupun nasional.
Lanjut membaca →