Gemuruh suara memenuhi Gelora Bung Karno manakala gol demi gol tercipta melalui tendangan-tendangan lincah dan cantik dari para jagoan lapangan hijau Team Merah Putih Garuda. Dengan penuh percaya diri mereka mencoba menambah gol ke gawang lawan tanpa permisi lagi kepada penjaga gawangnya, karena selama ini pemain kita masih memegang teguh adat ketimuran yang harus sopan kepada lawan main. “punten mas.. saya mau nendang bola ke gawang sampean, boleh ya..?. sehingga lawan sudah siap lebih dulu ketika bola sampe ke gawangnya.
Tapi kini yang terjadi adalah suatu peristiwa yang teramat jarang dan langka terjadi di tanah hijau bangsa kita, yang selama beberapa puluh tahun belakangan mungkin telinga dan mata kita sudah bosan disuguhi dengan berita kekalahan di setiap kali bertanding dengan negara jiran, baik itu di kandang sendiri apalagi di kandang lawan.
Di penghujung tahun 2010 ini suatu keajaiban terjadi, burung garuda yang selama ini tertidur lelap karena dikipasi oleh para koruptor telah bangun kembali, terbang dan menyambar dengan sayapnya yang gagah perkasa laksana pejuang kemerdekaan ’45. Saya mengira kebangkitan garuda mungkin karena terkejut sarangnya terbawa arus tsunami, kepalanya tertimpa wedus gembel merapi, dan kakinya terendam banjir wasior. Atau mungkin juga ingin disaksikan oleh sang koruptor seperti GAYUS agar lebih bergengsi di mata pejabat seperti halnya pertandingan tenis di Bali. Tapi yang jelas sebuah prestasi emas mulai dirangkai dengan gocekan dan operan bola-bola indah pejuang lapangan hijau kita.
Di bawah asuhan “Alfred Riedl” berkebangsaan Austria ini team Merah Putih kembali menunjukan semangat juangnya yang memang ciri khas nenek moyang bangsa Indonesia yang gagah berani tanpa takut membela yang benar…(kaya lagu aja..). Ditambah lagi ada dua orang pemain naturalisasi yang kini namanya melambung jadi idola mendadak yaitu Christian Gonzales dan Irfan Bachdim yang berparas cukup memikat para gadis ABG. Keduanya walaupun bukan asli bangsa Indonesia tapi sudah membawa harum bangsa Indonesia dengan prestasinya di lapangan hijau.
Secara pribadi saya sangat gembira menyaksikan peristiwa semacam ini, karena terakhir saya menyaksikan team Merah Putih menang melawan team gajah putih pada tahun 80-an, waktu itu kapten kesebelasan Hery Kiswanto mencetak goal tunggal ke gawang lawan dengan tendangan jarak jauhnya. Setelah itu saya tak pernah lagi mendengar berita baiknya, yang terdengar hanya duka dan duka. Namun kini saya kembali berharap pada team Merah Putih untuk lebih mengibaskan sayapnya dengan gagah perkasa, agar membuat gentar lawan dan membuat mata dunia terbelalak, bahwa masih ada bangsa Indonesia yang selama ini selalu dicemooh dengan sebutan negara sarang koruptor dan sarang teroris.
Indonesia adalah bangsa yang besar, berpenduduk lebih dari 200 juta, dan pemeluk islam terbesar di dunia, kenapa harus selalu dicemooh? kenapa harus jadi negara miskin padahal memiliki negeri yang subur, kaya akan hasil bumi dan sumber energi. Dimana letak kesalahannya? Saya tidak percaya kalau bangsa kita miskin, atau mungkinkah sengaja dibuat miskin agar dapat bantuan Bank Dunia yang bisa dikorup? karena hampir di setiap rumah sudah punya televisi, kendaraan. Di Jakarta mungkin mereka tidur di kolong jembatan, kontrakan, tapi di kampung halamannya meraka punya rumah, kebun dan kendaraan. Yang paling menjamur sekarang dapat dilihat sampai tataran rakyat terbawah pun sudah memilki alat komunikasi canggih (HP) yang dulu hanya dimilki orang kaya saja, dan alat komunikasi ini tergolong boros dan menguras banyak kantong rakyat. Laksana ketiban bulan para pengusaha dan pemilik operator seluler di Indonesia dengan seenaknya mempermainkan harga telekomunikasi rakyat, teramat banyak keuntungan yang mereka keruk dari uang rakyat yang tidak tahu apa-apa.
Ini semua adalah permainan bisnis global yang tanpa batas, bisnis yang dikembangkan oleh Yahudi untuk merusak sendi-sendi kehidupan ummat islam. Dunia laksana bola sepak yang selalu jadi rebutan setiap orang, terutama mereka yang punya power. Seharusnya dengan sepak bola bangsa kita semakin sadar bahwa kita tengah dipermainkan oleh dunia, yang terlihat semakin waahh.. Bola yang jauh akan kita kejar dan rebut, tapi bila sudah didapat akan kita tendang kembali dan menjauh dari kita, begitu seterusnya sampai kita kelelahan dan habis batas waktu yang ditentukan. Coba renungkan dengan kehidupan yang kita jalani, adakah kesamaannya?..
Mungkin kita lupa bahwa kita tidak selamanya hidup, kita akan kembali ke alam yang kekal. Dunia hanya tempat singgah mengumpulkan amal baik dan tabungan masa depan, kelak bila sudah waktunya akan kita tinggalkan semua, menghadap Sang Pencipta Kholiqul ‘Alam. Inna lillah…
Wallahul muwafiq ila aqwamit thriq.
“bangnas”
Important information for me. Thanks for really competent informative article. Ill be in touch with U